Oleh: M. Haninul Fuad*)
"Buku: senjata yang kukuh dan berdaya hebat untuk melakukan serangan maupun pertahanan terhadap perubahan sosial, termasuk perubahan dalam nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan"
(Muchtar Lubis)
Tidak ada kata lain yang pantas diucapkan menyikapi minat baca masyarakat Indonesia kecuali: "Memprihatinkan!". Taufiq Ismail yang sekarang gencar melancarkan program gemar membaca di kalangan remaja (anak-anak sekolah) lewat "Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB)" dan "Sastrawan Bicara Mahasiswa Membaca (SBMM)" dalam berbagai kesempatan mengungkap kegundahgulanaan hatinya. Ia mengatakan –yang mungkin membuat sebagian orang bosan- "Kita telah menjadi bangsa yang rabun membaca buku dan lumpuh menulis". Ungkapan ini tentunya punya alasan yang sangat kuat. Dan, benar adanya, persoalan kita adalah minat baca yang rendah.
Sebagai gambaran awal, sastrawan yang jebolan kedokteran hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengungkapkan data yang membuat kita tercengang (bagi yang masih punya peduli). Dalam data itu disebutkan, buku yang ada di perpustakaan sekolah yang wajib di baca oleh siswa dan siswa menulis tentang buku itu di beberapa negara adalah sebagai berikut:
SMA di Singapura (6 judul); Malaysia (6 judul); Thailand Selatan (5 judul); Brunai Darusalam (7 judul); Jepang (15 judul); Kanada (13 judul); USA (32 judul); Jerman (22 judul); Int’l School Swiss (15 judul); Rusia (12 judul); Perancis 20-30 judul); Nederland (30 judul); Indonesia jaman Belanda (25 judul); SMA Indonesia sekarang sampai tahun 2001 (0 judul).
Kenapa 0 judul? Apapun jawabnya, yang jelas angka itu memposisikan Indonesia pada urutan yang paling buncit. Mungkin masyarakat kita belum mengetahui manfaat membaca. Mungkin juga mereka, belum tahu bagaimana membaca yang baik, yang dapat mewujudkan apa yang kita inginkan.
Hernowo, dalam bukunya "Quantum Reading" yang sempat laris manis, memberikan informasi masa depan pembaca. Pada halaman 33 disebutkan bahwa manfaat khusus kegiatan membaca adalah terhindar dari kerusakan jaringan otak di masa tua. Membaca buku dapat menumbuhkan syaraf-syaraf baru di otak. Tapi sayang, meski sudah tahu begitu besar manfaat membaca, sudut-sudut rumah masih dibiarkan kosong tanpa buku. Malahan, diisi dengan barang-barang pajangan dan perabot rumah tangga.
Perpustakaan sekolah yang merupakan sumber pengetahuan memiliki beberapa permasalahan. Selain permasalahan tidak tersedianya buku-buku bermutu, tidak jarang perpustakaan sekolah sepi pengunjung. Kedua hal ini memiliki korelasi yang signifikan. Pengelola perpustakaan sekolah enggan menambah koleksi buku baru lantaran sedikitnya pengunjung. Sedangkan pengunjung menjadi malas mendatangi perpustakaan sekolah yang koleksi bukunya sedikit dan kuno. Bahkan perpustakaan sekolah hampir mirip dengan museum yang memajang benda-benda purbakala.
Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia ditinjau dari sudut ekonomi sedikit banyak dapat dimaklumi. Pendapatan perkapita masyarakat terlalu sedikit untuk dibelikan buku. Jangankan untuk beli buku, untuk kebutuhan sehari-hari yang sifatnya primer pun masih kurang. Oleh karenanya, langkah beberapa kepala sekolah untuk melengkapi koleksi perpustakaan sekolah dengan buku-buku bermutu dan fasilitas internet sebagai layanan virtual library patut diacungi jempol.
Peningkatan layanan perpustakaan sekolah akan membawa dampak positif bagi minat baca warga warga sekolah yang mencakup guru, siswa, dan pegawai sekolah. Namun begitu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yang pertama pengunjung setia perpustakaan sekolah masih dari golongan tertentu, belum mencakup seluruh warga sekolah. Yang kedua, sosialisasi program-program perpustakaan sekolah perlu ditingkatkan, mengingat masih banyaknya warga yang belum tahu atau tidak mau tahu dengan program-program tersebut. Pada intinya pihak pengambil keputusan dalam hal ini kepala sekolah mesti menjemput bola. Kalau perlu personil perpustakaan keliling ke kelas-kelas untuk menawarkan program baru dan buku-buku baru agar semua elemen tahu kalau perpustakaan yang dimiliki selalu di up date.
Rendahnya minat baca masyarakat membuat kita jauh tertinggal dengan negara-negara lain. Sementara orang sudah bisa menginjakkan kakinya di bulan, kita masih bermimpi di siang bolong. Orang jepang sudah sejak lama menanam dengan media air (hidroponik) kita malah asik dengan kesuburan tanah kita, yang jika tanah tersebut menjadi gersang kita tidak tahu bagaimana menanganinya.
Selama ini kita masih disibukkan dengan hal-hal yang sifatnya teoritis. Misalnya, kalau tiba-tiba nilai ujian nasional siswa kita tiba-tiba jelek maka kita beramai-ramai menyalahkan sistem. Padahal, sebagai bagian dari sistem pendidikan tentunya kita juga harus ikut bertanggung jawab. Bukan hanya guru dan siswa saja, keterlibatan komite sekolah juga memiliki andil yang cukup besar. Yang menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama saat ini adalah bagaimana melaksanakan ide-ide teoritis yang penulis yakin semua memilikinya tersebut menjadi pergerakan yang sifatnya praktis. Taufiq Ismail sudah memulainya, kapan di sekolah kita?
Harapan penulis, dengan ditingkatkannya pelayanan perpustakaan sekolah dapat diimbangi dengan minat membaca yang tinggi. Percuma perpustakaan itu dibangun kalau sekedar sebagai pelengkap infrastruktur sekolah saja. Dengan begitu kata pepatah "gayung telah bersambut". Mari meretas cakrawala tanpa batas ini dengan gemar membaca!
*) M. Haninul Fuad adalah Penggiat Taman Baca, Guru SMA Terbuka Mamba’unnur Gading Bululawang Malang
Kamis, 17 April 2008
Rabu, 02 April 2008
Madzhab Baru Dalam Psikologi

Judul Buku: Psikologi Fenomenologi Eksistensialisme
Penulis: Supaat I. Lathief
Penerbit: Pustaka Ilalang, Lamongan
Tahun Terbit: Cetakan I, Maret 2008
Fenomenologi adalah sebuah metode pemikiran, a way of looking at a things, yang berbeda dari cara berpikir seorang ilmuwan. Ilmuwan bisa meyakinkan orang lain dengan mengajukan pembuktian hasil eksperimen ilmiah, yang dapat diuji oleh ilmuwan lain secara terbuka. Tidak demikian halnya dengan seorang fenomenolog. Yang terakhir ini hanya dapat mengarahkan mata orang lain, sehingga ia dapat melihat apa yang dilihat seorang fenomenolog.
Metode pemikiran ini pertama kali dirintis pertama kali oleh Edmund Husserl (1859-1939), seorang ahli filsafat Yahudi Jerman. Menurutnya, fenomenologi sebagai suatu disiplin filsafat yang akan berusaha melukiskan segala pengalaman manusia. Selanjutnya metode fenomenologis maknanya mulai berkembang, dan kata fenomenologis kira-kira bersinonim dengan deskriptif, yaitu mendeskripsikan seluruh gejala kesadaran; sedangkan yang menjadi obyek telaah adalah hakikat atau makna yang tampak sebagai gejala (fenomena) dalam kesadaran.
Fenomenologi menjadi sangat populer pada pertengahan abad kedua puluh atau sekitar tahun 50-an ketika banyak deskripsi fenomenologis bermunculan dengan gaya yang lebih hidup dan populis –di Perancis oleh Jean-Paul Sartre, Merleau-Ponty, sedang di negara Belanda dikembangkan oleh F. Buytendijk. Fenomenologi (Husserl) memahami kesadaran yang terarah kepada realitas (intensionalitas), maksudnya, kesadaran berarti kesadaran akan sesuatu. Peroalan yang tampak adalah kehadiran kedua belah pihak, subyek dan obyek. Subyek mengarahkan diri (kesadarannya) kepada obyek, dan sebagai akibatnya akan muncul sudut pandang. Fenomenologi berkeyakinan bahwa fenomen atau gejala harus diajak berbicara, diberi kesempatan untuk menampakkan diri. Sementara itu, kesadaran (subyek) dengan aktif menangkap hakikat obyek dengan analisis ketat (rigorous analysis) dan melalui proses empati. Jelas sekali fenomenologi menegasikan jarak atau kesenjangan antara subyek dan obyek. Kesadaran subyek tak sampai mengobyektivikasi obyek, melainkan menghayati, mengalami obyek untuk menangkap hakikat dan maknanya.
Metode fenomenologis Husserl ternyata telah membawa Martin Heidegger (1889-1976), seorang ahli filsafat kebangsaan Jerman, kepada filsafat dan psikologi yang berusaha menitikberatkan pada psikoterapis dan analisis fenomenolgis-eksistensial. Namun, analisis tersebut berkembang menjadi sebuah kajian empiris, seperti yang dipraktikkan dalam berbagai penelitian dan praktik psikoterapis, seperti dilakukan oleh Binswanger, Medrad Boss, Victor Frankl, Rollo May, Carl Rogers. Psikologi fenomenologi-eksistensial sendiri dipengaruhi oleh perkembangan filsafat eksistensialisme dengan menggunakan metode fenomenologis Husserl. Konsep-konsep dasar filsafat eksistensialisme kemudian diterapkan para psikolog eksistensialisme untuk menjelaskan eksistensi dan pengalaman manusia dalam praktik terapuetis mereka.
Lebih spesifik psikoterapi fenomenologi-eksistensial dipergunakan baik untuk mengungkap gejala eksistensi dan pengalaman manusia, juga untuk praktik psikoterapis terhadap subyek (klien, pasien) yang membutuhkan penanganan terhadap masalah-masalah eksistensial, seperti kecemasan, kehampaan, keterasingan psikologis, apatis, maupun ketidakbermaknaan hidup. Selanjutnya Binswanger, mengatakan psikoterapi fenomenologi-eksistensial merupakan kajian psikologis untuk mengungkap eksistensi manusia pada taraf empiris (fenomenal). Kajian tersebut tidak hanya untuk memahami gejala eksistensi manusia secara mendalam (teoritis), tetapi juga untu praktik terapuetis terhadap individu-individu yang mengalami ganggun psikologis.
Buku ini merupakan sebuah pengantar dalam memahami konsep-konsep dasar psikologi fenomenologi-eksistensialisme. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan, penulis menyajikan pokok-pokok pikiran para tokoh fenomenologi, eksistensialisme, serta perkembangannya dalam praktik psikoterapi fenomenologi-eksistensial, serta struktur eksistensi manusia maupun struktur pengalaman eksistensial manusia. Dengan demikian, kehadiran buku ini mampu membuka ketersembunyian dalam memahami konsep-konsep psikoterpai fenomenologi-eksistensial, sehingga dapat membantu mengaplikasikan dalam ruang kerja terapuetis mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)